“janji?”
aku kembali mengulurkan jari kelingkingku padanya, namun masih belum
disambutnya juga. Aku merengut lalu berniat menurunkan jari kelingkingku. Tapi
tiba-tiba tangannya menahan tanganku dia tersenyum padaku dengan senyuman
khasnya itu.
“kau
tau kan aku bukan orang yang bisa memegang janji?” katanya dengan nada yang
lembut, aku hanya mengerjapkan mataku. Kemudian dia mengecup tanganku dan
kembali menatapku lembut.
“tapi… untuk yang satu ini,aku akan
memegang janji ini selamanya, sampai Tuhan memanggilku nanti. Aku akan terus
berusaha untuk menepatinya, selalu.. bersama…selamanya?” dia kembali mengecup
tanganku, senyuman lembut itu masih belum menyamar dari bibirnya, aku membalas
senyuman itu
“selamanya”
Selamanya…
apa kata itu bisa dipercaya? Bersama selamanya… apa dua kata itu akan terus
mewakili kita, bersama…selamanya… apa kata itu takkan mengusang selama
berputarnya jarum jam di dinding? Aku tak terlalu berharap tentang semua ini,
aku bahkan sekarang sangat berharap kita tak bertemu sebelumnya, karena
kenyataan yang terjadi sebenarnya.. sekarang…aku takkan bisa menepatinya
meskipun aku berusaha.
Day
by day…
-dean-
Gadis
itu menggigit bibirnya, menahan air mata yang sebentar lagi mengalir turun dari
balik kelopak matanya. Pemuda di depannya hanya menatap gadis itu dengan
tatapan nanar, siapapun sebenarnya tak ingin terjadi.. tapi keadaan memaksa
mereka. Gadis yang bernama Haura itu perlahan melepaskan sebuah cincin yang
melingkar di jari manisnya, air mata perlahan menetes. Kemudian dia letakan cincin
itu di atas telapak tangan pemuda yang masih diam di depannya. Pemuda itu Andrian.
Teman dekatnya selama ini, Haura terdiam sebentar menatap cincin berwarna
keemasan itu lalu meraih cincin keperakan di sebelahnya lalu memakainya di jari
manisnya. Haura mengangkat wajahnya perlahan
“mulai
hari ini…. Kita sama-sama..” katanya dengan suara bergetar. Andrian menghapus
sisa air mata di pipi gadis itu dengan ibu jarinya
“jangan
nangis… kamu sendiri yang meminta ini, kamu ga boleh menyesal nantinya, ya?” andrian
berkata padanya, Haura mengangguk, lalu melangkah pergi. Andrian menatap
punggung gadis itu, dia yakin Haura sedang menangis sekarang ini, kemudian
Andrian melihat ke arah lain. Ternyata selama ini ada orang yang melihat
kejadian ini, Andrian menggenggam cincin yang tadi dipakai Haura kuat-kuat.
Dharma.
Pemuda yang selama ini menjadi kekasih Haura melihat semuanya. Namun Andrian
tau Dharma pasti tak mendengar apapun tentang percakapan singkatnya dengan
Haura, pasti.
“lo…apain
Haura sampe dia nangis gitu?” kata Dharma tajam.
“apa
urusan lo?” sahut Andrian dingin
Dharma tiba-tiba melangkah mendekati Andrian,
“lo
apain dia HAH?!” teriaknya
“GUA
GA NGAPA-NGAPAIN DIA, NGERTI LO!” balas Andrian
2
teman Dharma merasa ada yang tidak beres mereka segera melerai dua orang itu.
“orang
gagal seperti lo itu… ga pantes ada di sisi Haura, ngerti lo?” ucap Andrian,
Dharma tersulut emosinya ketika mendengar kata ‘orang gagal’ kemudian menerjang
Andrian dan menghantamnya tepat di wajah, mereka berkelahi disana. Tepat setelah
Haura pergi. 2 teman Dharma tentu tidak diam saja, mereka berusaha melerai
mereka berdua. Namun keduanya malah saling memancing emosi dan mencaci maki.
“DHARMA
UDAH!! JANGAN KAYAK ANAK KECIL GINI?!” teriak Adit –teman dharma. Adit kemudian
menyeret Dharma pergi dari tempat itu, disisi lain Riski hanya menepuk-nepuk
bahu Andrian
“gua
ga nyangka kalian sampe harus berantem kaya gini..” ucapnya, Andrian menatap
Riski lalu hanya mengulas senyum tipis, dia menghapus darah yang muncul dari
sudut bibirnya akibat pukulan Dharma tadi.
“dia
kayaknya nganggep Haura cinta sejatinya, Ris… gua sebenernya kalo bisa gamau
berbuat kaya gini.. tapi keadaan maksa gua, ris..” kata Andrian, Riski kemudian
tersenyum dan kembali menepuk bahu temannya itu.
“ga
ada yang mau hal ini terjadi Dri.. ga ada. Tapi takdir selalu berkata lain”
Andrian
tersenyum.
“udah
susul Dharma sama Adit sana. Nanti lo juga dianggap bukan ‘sahabat’ sama anak
itu”
Riski
terkekeh lalu melangkah pergi menyusul Dharma dan Adit. Dulu dia,Andrian,Adit,Rio
dan Dharma adalah sahabat yang sangat dekat—sudah seperti keluarga terutama
Dharma, dulu Dharma dan Andrian sangatlah dekat, bahkan dulu Dharma yang meminta bantuan Andrian untuk
mendapatkan Haura ketika tahun-tahun terakhir mereka semua duduk di bangku SMA.
Andrian juga sempat jadi ‘supir kencan’ Haura dan Dharma, Dharma sama sekali
tak bisa menyetir mobil dan kendaraan lainnya, pernah dia les mengemudi dan
yang Dharma dapatkan hanyalah permintaan ganti rugi karena menabrak pagar rumah
orang ketika latihan. Di mata Andrian, Dharma dan Haura pasangan yang nyaris
sempurna. Dia senang bisa menghabiskan waktu dengan keduanya, tapi itu bukan
berarti apa-apa, Andrian sama sekali tak menyimpan rasa pada Haura seperti apa
yang Dharma kira selama ini. Semua ini terjadi begitu saja, tanpa ada yang
menginginkannya sama sekali. Takdir yang memaksa mereka.
---
Ketika
tiba di rumah, Dharma langsung membanting tubuhnya ke atas sofa, dia memijat
pelipisnya menghilangkan rasa pening yang belakangan ini terus dia alami sejak
1 minggu yang lalu, ketika tiba-tiba hal yang sama sekali tak ingin dia lihat
terjadi di depan matanya. Andrian dan Haura berciuman di halaman rumahnya,
didepan matanya. Malam itu dia langsung menerjang Andrian dan memukulinya. Dan
sejak malam itu Dharma sama sekali tak menganggap Andrian sahabatnya lagi.
Dan
sejak itu ada satu hal yang mengganjal di hatinya, dan terus dia pikirkan. Kenapa ini harus terjadi? Dan tak peduli
seberapa besar rasa dikhianati yang disrasakan oleh Dharma dia tak ingin melepaskan
Haura sama sekali. Gadis itu sangat berharga menurutnya.
“ma,
mau gua ambilin kompresan buat luka lo?” tawar Rio, Dharma hanya menggeleng
lalu langsung menuju kamarnya yang ada di lantai dua tanpa berkata lagi.
“kayanya
tu anak stress banget gara-gara masalah ini” celetuk Adit lalu bersandar pada
sandaran kursi kayunya.
“lu
kaya baru kenal dia sehari-dua hari aja… Dharma kan emang begitu anaknya” sahut
Rio lalu duduk di atas sofa yang tadi di duduki oleh Dharma.
“gua
Cuma bisa berharap dia ga ngamuk di kamarnya itu aja…” ucap Riski mengingatkan
ketiganya tentang bagaimana Dharma mendapatkan luka di pipi kirinya. Luka yang
masih di perban itu, mereka berharap Dharma ga bertingkah yang lebih parah dari
hal itu—meski rasanya itu hal yang sangat mustahil.
“menurut kamu kita kesana jangan?”
Tanya Haura, dia memperhatikan kertas yang ada di tangannya, Dharma mau tak mau
ikut menatap kertas yang berisi undangan datang ke sebuah pertunjukkan musical.
Dharma menyeruput es bubblenya lagi kemudian menggangguk setuju
“apa salahnya?” katanya setelah menelan
beberapa bubble
“tapi… bukannya besok kita sama Andrian
mau ke danau? Katanya kamu udah janji sama Andrian buat nganter kesana” Tanya
Haura lagi, Dharma diam sejenak dia memikirkan bagaimana sebaiknya.
“emang siapa sih yang ngundang ke
musical itu?” Tanya Dharma
“sahabatku si…”
“hmm… itu ga cuma buat hari ini kan?...
acaranya?” Tanya Dharma lagi, Haura hanya mengangguk
“bisa lain kali kan? Kalo kamu emang
mau ke danau kita ke musical lain kali aja”
“iya juga ya.. hahaha aku ga kepikiran
sampe kesana lo”
“dharma gitu… selalu bisa menyelesaikan
masalah” Dharma memainkan alisnya, haura tertawa renyah lalu menurunkan topi
yang dipakai Dharma agar dia tak bisa melihat kedua alis itu.
“eii… tergoda ya sama alisku”
“seenaknya aja ngomong”
---
Drak!
Suara
itu mengejutkan Riski, Adit dan Rio yang tengah mengobrol di lantai bawah.
Tawa-tawa itu berubah jadi keheningan panjang untuk memastikan pendengaran
masing-masing. Namun belum ada suara lain lagi, hanya ada suara hembusan angin
yang melewati ranting-ranting pohon di luar sana.
“kalian
denger yang tadi kan?” Tanya Rio
“iya..apaan
ya?” sahut Adit
Drak!
“AAARRRGGGHHH!!”
Mendengar
teriakan itu entah kenapa langsung mendorong Rio untuk segera berlari ke lantai
atas, diikuti Adit dan Riski. Dan memang apa yang ditakuti oleh Riski terjadi
lagi, mereka hanya bisa geleng kepala melihat ceceran darah dari tangan Dharma
dan pecahan cermin di atas wastafel sekarang cermin berbentuk bulat itu hancur
dan pecahannya bertebaran di sekitar wastafel. Rio menghampiri Dharma dan
membawanya keluar dari ruangan itu. Riski dan Adit hanya menatap keduanya
keluar dari kamar Dharma yang dulu mereka sebut sebagai kamar ter-rapi
sepanjang sejarah dan sekarang seperti gudang dari pada kamar.
“anak
itu bener-bener hancur.. sehancur-hancurnya manusia” ucap adit, riski hanya
menatap temannya itu
“dia
bisa lebih parah dari ini…. Kalo dia tau”
Kedua
mata Adit membesar seketika.
“Jadi..
yang dibilang Andrian waktu itu bener? Lo ga becanda kan Ris?” Tanya Adit,
Riski mengangguk pasrah
“lo
ga boleh bilang apa-apa ke Dharma.. itu permintaan Andrian sama…Haura”
Adit
masih diam. Lebih tepatnya membeku di tempat begitu mendengar apa yang barusan
dikatakan oleh Riski, apa yang selama ini dia kira dan Cuma candaan belaka
ternyata memang benar-benar terjadi.
dia bisa lebih parah dari ini
kalimat
itu menggema di otak Adit.
---
“dri, kamu yakin…. Dharma bakal suka?”
Tanya Haura.
“kenapa engga?” Tanya Andrian balik
“tapi…aku…”
“udahlah, beli aja.. nanti aku yang
kasih”
“thanks
buat hari ini Dri… kalo ga ada kamu pasti susah banget cari yang tadi” ucap
Haura diakhiri dengan senyuman manisnya, Andiran membalas senyuman itu.
“kemana
lagi sekarang? Pulang?” Tanya Andrian. Haura tak menjawab, dia membeku ketika
menatap ke satu tempat, ketika Andrian mengikuti kemana arah tatapan Haura
mengarah dia bisa melihat mobil Riski tepat di depan mobil mereka berdua, yang
membuat Haura membeku bukan karena mobil itu tapi karena Dharma yang duduk di
jok belakang menatap tajam ke arahnya. Bahu Haura bergunjang hebat, kemudian
langsung beralih bersandar pada bahu Andrian. Andrian sempat tersentak namun
kemudian merangkul pundak Haura dan mengecup bagian atas kepalanya, lalu
tersenyum sarkatis ke arah Dharma. Dharma membuta pintu mobilnya dan melangkah
menuju mobil Andrian dia meninju bagian kap mobil dan menatap dua orang di
depan itu dengan tatapan ‘membunuh’. Riski dan Rio segera turun dan menarik
Dharma mundur sebelum terjadi hal yang tidak-tidak.
---
“jadi
mau kamu apa sekarang?” Tanya Dharma, orang yang ada di sebrang telepon sana
belum membalas apa-apa lagi hanya terdengar helaan nafas
“bukannya waktu itu aku udah bilang, ma? Aku
lebih…mencintai Andrian dari kamu” balas suara itu, melebarkan luka yang
sudah lebih dulu tercoreng di hati Dharma
“tapi aku ga bisa biarin kamu pergi haura…
kamu lupa janji kita?” suara Dharma bergetar
Haura
menutup mulutnya dengan sebelah tangannya, dia ingat dengan kenangan bodoh
mereka dulu, bagaimana mereka tertawa dan bercanda dulu.
“maaf
Dharma.. aku ga bisa nepatin janjit itu lagi… takdir berkata lain” ucap Haura,
matanya kembali berair
“aku cuma pengen kamu tau kalo apapun
keputusanmu, aku tetep nganggep kita kaya dulu, ra.. aku udah terlanjur terikat
dengan perjanjian kita waktu itu. Gapapa..” Dharma menghela nafasnya di
sebrang sana “meski hati kamu bukan buat
aku lagi… asalkan kamu bahagia aku juga bahagia ko.. aku cinta sama kamu, aku
pengen kita sama-sama selamanya, sampe cuma maut yang misahin kita..”
kalimat itu sukses membuat air mata mengalir deras dari mata haura, dia sama
sekali tak menyangka ada orang seperti ini di dunia ini, selama hidup 20 tahun
lamanya di dunia ini dia tak pernah percaya pada apa yang namanya cinta sejati.
Sama sekali tidak. Namun sekarang Tuhan seperti sedang memberinya sebuah cobaan
berat ketika dia bertemu dan akhirnya membuatnya sadar bahwa inilah cinta
sejatinya. Cinta sejati yang sudah dia lukai dengan teganya.
“maaf…maaf
dharma aku gabisa” ucap haura, kemudian memutuskan sambungan teleponnya, dia
menangis di pojokan kamarnya. Menyesali semua yang sudah terjadi, menyesali apa
yang seharusnya dia lakukan ketika ada kesempatannya dulu, sekarang dia
terlambat, benar-benar terlambat. Haura menyingkirkan rambut yang menghalangi
pandangannya dan menyadari ada sesuatu yang menyangkut di tangannya, ketika dia
melihat apa itu tangisannya semakin menjadi. Haura melepaskan helaian rambut
yang menyangkut di tangannya lalu menutup mulutnya dengan tangannya yang lain,
dia takut. Semakin takut.
Dharma
membaringkan tubuhnya diatas kasur, dia menerawang ke langit-langit kamarnya
yang berwarna abu itu. Sejenak ia memejamkan matanya lalu kembali terbayang
tentang masa lalunya. Ketika mereka bermain di danau itu, naik ke atas perahu
dan saling memotret dari atas perahu itu, bercanda dengan air danau yang jernih
itu di teriknya matahari, bagaimana mereka bercanda di dermaga sore harinya,
dan ketika mereka berbaring di padang rumput memandang bintang yang bertebaran
di langit malam.
Dharma
mencengkram seprai kasurnya kuat-kuat. Darah kembali mengalir dari balik perban
di tangan kirinya, Dharma bangkit dari kasurnya dan menatap layar ponselnya,
wallpapernya masih sama sejak dulu, foto ‘couple’ pertamanya dengan Haura di
sebuah pusat perbelanjaan, dharma membanting ponsel itu hingga isinya
berceceran. Lalu bangkit dari tempat dia duduk, pening kembali terasa, dan
entah kenapa rasa pening itu malah membuat emosinya tiba-tiba naik dan
membanting sebuah meja yang ada dikamarnya sehingga benda apapun yang ada
diatasnya berjatuhan ke lantai. Rio yang mendengar keributan dari kamar Dharma
hanya berlari dan menatap bagaimana Dharma mengamuk di kamarnya lewat ambang
pintu, ketika Riski datang dia juga hanya membeku, di ambang pintu seperti Rio.
“gua
gatau apa yang terjadi disini tapi.. gua takut… apa jadinya kalo Dharma tau”
ucap Rio pelan, Riski menatap temannya, lalu beralih kembali menatap Dharma
yang sudah duduk lemas di tengah kamarnya dengan kepala tertunduk
“gua
ga peduli lagi… yang gua tau cuma Dharma butuh kita sekarang” Riski melangkahkan
kakinya masuk dan berlutut tepat di sebelah Dharma, dia menenangkan Dharma.
Tiba-tiba ponselnya berdering ada telepon dari Andrian, dia mengangkatnya dan
setelah mendengar beberapa kalimat dari Andrian, Rio segera berlari keluar
menuju mobilnya yang sudah terparkir di halaman.
It can't be removed like a tattoo
I sigh deeply as if a ground is going to cave in
Only dusts are piled up in my mind
I sigh deeply as if a ground is going to cave in
Only dusts are piled up in my mind
Rio
berlari di sebuah koridor dan tak mempedulikan bagaimana pandangan orang lain
tentangnya, dia berlari sekuat tenaganya sampai akhirnya dia menemukan sebuah
pintu bertuliskan 3 digit angka. Lalu perlahan membuka pintunya, di dalam
ruangan itu hanya ada Andrian dan seseorang yang tengah terbaring lemah di atas
ranjangnya, dia…
Haura.
“kapan
dia dibawa kesini?” Tanya Rio
“1
jam yang lalu… dokter bilang udah parah banget, bahkan oprasi juga ga akan
menjamin dia sembuh.. kemungkinannya cuma 20%”
“eh?”
mata Rio membesar karenanya “serius lo?” tanyanya lagi
“gua
serius… paling lambat minggu depan dia harus dioperasi.. gua udah nanya ke
Haura dia mau kapan di operasi, dia bilang hari kamis.. setelah rencana itu”
“dia…
masih mikirin rencana itu dengan keadaan begini?!”
“dari
awal niat dia emang gitu kan? Tante sama om juga ga bisa bilang apa-apa tadi..
mereka pasrah dengan kemauan haura yang udah final itu, dia mau ngasih hadiah 3
year anniversary dulu ke Dharma baru di operasi”
Rio
mengalihkan pandangannya, namun kembali menatap haura yang tertidur pulas di
atas kasurnya.
“sampai
hari itu.. Dharma gaboleh tau.. haura bilang Dharma gaboleh tau apa-apa.. sampe
dia sembuh”
“gua
ngerti… Dharma gatau, tapi dia hancur, dri… lo juga sebagai sahabatnya pasti
tau kan?”
“gua
tau… tapi ini permintaan Haura.. dia juga sahabat kita, kita gaboleh egois”
---
“ma, aku mau nanya” haura menegakkan posisi
duduknya, dharma yang tengah sibuk beraktifitas dengan komputernya hanya
berdehem singkat.
“nanya apa?” Tanya dharma ketika tak
terdengar suara haura lagi
“kamu… kalo misalnya ada yang mau
ngasih kamu hadiah ulang tahun atau apalah.. kamu mau apa?” Tanya Haura, dharma
seketika memutar kursinya dan menghadap ke Haura. Bibirnya mengembangkan sebuah
senyuman nakal
“mau beliin aku kado yaaaa~?” dharma
menunjuk Haura nada bicaranya seperti sedang mengejek gadis itu
“eh, kamu sendiri belum ngasih aku kado
ulang tahun kemaren, sekarang aku harus kasih kamu kado? Kado buatku mana
dulu??” omel Haura, Dharma mencibir gadis itu kemudian memutar kursinya lagi
dan kembali focus pada komputernya, Haura terkekeh di belakang dia bangkit dari
kursinya dan memeluk dharma dari belakang.
“marah yaaa?” Tanya haura
“enggak.”
“ish marah… dharma ga lucu ah”
“iya,iya aku marah.. kenapa?”
“masa gara-gara kado aja marah si?”
haura mencubiti pipi dharma
“aku belum ada uang, ra… jangan ingetin
kado mulu dong”
“woooo…” Haura menurunkan lipatan yang
ada di kupluk dharma hingga menutupi wajah pemuda itu seluruhnya, dharma
tertawa pelan lalu melepaskan kupluk itu.
“emang kenapa kamu nanya gitu ke aku?
Yang hadiah itu…” Tanya dharma lagi
“buat apa yaaa?? Rahasia dong.. jawab
aja”
“eemm…apa yah.. aku maunya kamu”
“eeh… jenggut nih.. serius dong”
“apa yah..? gatau deh, aku lagi ga
pengen apa-apa”
“eeumm.. yaudah deh, eh.. udah sore..
aku pulang yah?”
“aku anter??”
“oke”
“si
dharma kemana?” Tanya Rio sekembalinya dari Rumah sakit, Adit dan Riski
menjawabnya dengan gelengan kepala. Sejak tadi, dharma memang tak terlihat lagi
di rumah itu entah kapan perginya.
“Dri..
aku mau ke danau”
Dharma
memandang pemandangan air yang tenang di depannya dengan tatapan kosong, dia
mengambil beberapa buah batu yang ada di sekitarnya lalu melemparkannya ke
tengah danau membuat riak-riak air bergerak, melebar, dan menghilang. Tiba-tiba
matanya menangkap sesuatu yang ia yakini itu adalah haura di sebrang danau
dengan pakaian serba putih dan sebuah topi warna putih. Dharma terdiam dan
menikmati pemandangan itu dari kejauhan. Kemudian Andrian datang dan duduk di
sebelahnya, kelihatannya mereka tengah mengobrol, lalu sesekali terdengar
sebuah tawa khas dari haura. Dharma tersenyum tipis ketika suara itu
samar-samar menggetarkan gendang telinganya. Dharma melihat semuanya, bagaimana
andrian membelai kepala haura dengan lembut, caranya membuat haura tertawa, dan
sampai akhirnya dharma benar-benar harus menahan semua rasa cemburunya ketika
andrian tiba-tiba mendaratkan sebuah kecupan di kening dan puncak kepala haura,
persis seperti yang mereka lakukan dulu.
“taraaaa!!” dharma membuka kepalan
tangannya dan menunjukan dua pasang cincin berarna keemasan
“ini apa?”
“gatau?? Ini namanya cincin.. yang ini
buat aku, yang ini buat kamu” dharma memberikan salah satu cincin pada haura.
“kamu gabisa ngasihnya dengan cara yang
romantic dikit apa?” Tanya haura dengan nada suara yang dibuat seperti sedang
kesal
“eii… aku ga biasa sama yang begitu,
yaudahlah pake cincinnya”
“bagus” haura mengulurkan tangannya ke
depan dan memperlihatkan cincin yang sudah melingkar di jari manisnya. Dharma
mengikuti setelahnya.
“bagus kaan?”
Dharma
menatap bulatan keemasan itu sendiri, cincin yang dulunya berwarna emas terang
kini tampaknya warna itu mulai memudar, dia masih ingat ketika dia memberikan
cincin ini saat 6 month anniversarrynya dengan haura. Dharma memakai cincin itu
lagi lalu pergi dari tempat itu.
---
Tuesday,
2nd November
Dharma
kembali menggeleng tak setuju ketika Rio kembali membujuknya untuk menemani
pemuda itu bermain basket di lapangan yang jaraknya hanya 500 meter dari rumah
dharma.
“gua
ga mood olahraga sama sekali.. sama yang lain aja sana” tolak dharma
“ma…
lu… aiis.. ayolaah~ yang lain kan lagi di rumah Riski…” ajak Rio lagi, dharma
berdecak kesal dan kembali menggelengkan kepalanya
“gua
gaenak badan rioo, sendiri aja kenapa si?”
“gaenak
badan? Gimana badan lu yang kurus kering begini bisa enak kalo olahraga aja
gamau, seenggaknya lu harus kena sinar matahari, ma”
Dharma
hanya memutar bola matanya.
“lu
nonton aja deh.. gua main sendiri”
Setelah
perdebatan panjang, akhirnya dharma menyerah lalu mengikuti mau Rio, meski dia
merasa ada yang janggal ketika rio memutuskan untuk naik ke dalam mobil, jarak
yang lumayan dekat kenapa harus naik mobil? Dan dharma sadar ada sesuatu yang
aneh disini ketika rio tidak mengarahkan mobilnya ke lapangan basket tapi ke
tempat lain
“mau
kemana?” Tanya dharma singkat
“ke
lapangan” jawab rio singkat dengan pandangan focus ke depan, dharma hanya
menghembuskan nafas panjang dan menatap keluar jendela. Dan bukan lapangan yang
mereka tuju, tapi danau. Dharma melihat sekeliling ketika dia keluar dari
mobil.
“mau
ngapain disini?” Tanya dharma
“gua
mau jemput yang lain dulu… lu disini aja tungguin” ucap rio dan segera mungkin
menggas mobilnya meninggalka tempat itu. Dharma yang kebingungan akhirnya hanya
diam di pinggiran jalan itu dan melihat sekeliling.
“Dharma..”
panggil seseorang, dharma segera berbalik dan terkejut melihat haura dengan
gaun warna biru muda selutut. “apa kabar?” Tanya haura, mata gadis itu melirik
kea rah tangan kiri dharma yang di perban, dharma segera menyembunyikan tangan
itu.
“baik”
jawabnya singkat
“mau
bicara? Sebentar aja.. ga ada 10 menit”
“boleh”
---
“jadi..
tangan kamu itu kenapa?” Tanya haura membuka percakapan, dharma menatap ke
depan dan masih membungkam mulutnya tak mau membahas luka ini sama sekali
“kamu... apa itu… luka karena…”
“ada
insiden kecil, ga disengaja.” Jawab dharma memotong kalimat haura, gadis itu
menganggukkan kepalanya “kamu sendiri gimana kabarnya?”
“baik…”
Dharma
menolehkan kepalanya, menatap gadis yang sekarang tengah duduk di sebelahnya
“kamu
kurusan.. lagi diet?”
“ah
engga.. lagi ga mau makan aja belakangan ini” jawab haura diakhiri senyuman
manis
“hmm..
mau bicara apa?”
“aku
cuma mau ngasih kamu ini” haura mengeluarkan sebuah topi rajutan warna merah
maroon. “happy birthday”
Dharma
tersenyum dan segera mengalihkan pandangannya, dia baru saja ingat hari ini
hari ulang tahunnya, dia nyaris ingin tertawa sekencang-kencangnya
“kamu
inget?” Tanya dharma, haura hanya menggangguk pelan.
“makasih..
tapi aku ga butuh itu” dharma menatap haura tajam
“karena
yang aku butuhin bukan hadiah yang seperti ini, kamu tau kan? Kalo hadiah yang
paling tepat buatku itu apa? Itu kamu.” Ucap dharma “tapi.. itu udah ga mungkin
lagi ya? Ya kan?” dharma tersenyum sarkatis. Haura hanya menatapnya dengan
diam.
“kamu
marah?” Tanya haura
“masih
nanya??? Masih bisa nanya pertanyaan itu???” kata dharma tajam
“aku
ga marah.. aku ke-ce-wa.. aku kecewa, aku ngerasa gagal, aku… aku… aku muak
liat mukamu itu!! Aku muak!! Jujur aku merasa sebaiknya kita harusnya ga ketemu
sama sekali!!”
Haura
diam, dia menggigit bibirnya menahan airmata yang sebentar lagi akan jatuh.
“apa..
aku yang terlalu bodoh ya? Terlalu cinta? Atau apalah itu… aku yang bodoh ya?
Haura, aku bodoh ya?”
“kamu
ga bodoh dharma.. engga”
“aku
cape.” Ucap dharma “aku cape nahan semua sakit ini, cemburu yang terus membakar
luka ini. Aku cape. Aku cape marah. Aku cape cemburu. Aku cape… tapi aku ga
bisa berenti marah, aku gabisa berenti cemburu ketika kamu deket-deket bangsat
itu”
“andrian
bukan bangsat dharma!”
“TERUS
APA?”
“kenapa
kamu manggil andrian bangsat? Apa alasan kamu? Aku tau kamu marah, cemburu,
kecewa.. tapi ga seharusnya kamu manggil andrian bangsat kaya gitu”
“TERSERAH!”
dharma bangkit dari bangku itu dan melangkah pergi, meninggalkan haura
sendirian. Dan air mata yang sejak tadi ditahan gadis itu mulai mengalir
melalui pipi gadis itu, dia menangis lagi. dia juga pelan-pelan merasakan apa
yang dirasakan oleh dharma. Dan dia juga akhirnya hancur. Lebih hancur dari
dharma.
---
“jadi
kemaren dharma nolak hadiah itu?” Tanya Andrian, Haura mengangguk dengan seulas
senyuman manis di bibirnya
“dia
akhirnya marah sama aku dri.. dia benci sama aku” ucap haura, Rio, Riski dan
Adit hanya menatap gadis itu dengan diam. Mereka tak tau lagi harus berkomentar
apa tentang ini, Haura sepertinya benar-benar ‘berhasil’ membuat Dharma
membencinya.
“Rio..
aku mau denger kamu nyanyi… udah lama aku ga denger kamu nyanyi. Adit juga”
“kamu
harus istirahat Haura, nanti jam 3 kan masuk ruang oprasi”
“aku
mau denger kamu nyanyi yo… serius deh.. aku kangen sama suara kamu pas nyanyi
itu”
Rio
akhirnya menyerah, dan Adit pamit ke kamar mandi. Adit bersandari di sebelah
pintu kamar Haura dan memejamkan matanya, jam 3 nanti haura akan dioprasi…
inikah saatnya dharma tau? Atau tidak? Suara nyanyian rio tak terdengar lagi,
tiba-tiba beberapa dokter dan suster masuk ke kamar haura dan membawa haura
keluar. Adit membeku ketika melihat Haura terbaring lemah di atas kasurnya
dengan wajah pucat pasi.
“kenapa
sama dia?” Tanya adit
“gua
juga gay akin, tiba-tiba haura mimisan lagi. Andrian langsung manggil dokter”
jelas Riski
“dan
dokter tadi langsung mutusin haura untuk di bawa ke ruang oprasi sekarang juga,
setelah meriksa keadaan haura tadi. Kayanya udah gawat banget” lanjut Rio
“pokonya
telpon Dharma sekarang!”
Rio
membulatkan kedua matanya
“sekarang?”
“cepet!!”
ucap andrian lalu berlari menyusul para dokter, diikuti Riski dan Adit.
Tuuut…tuuuut…tuut..
Dharma
menatap layar ponselnya terdapat nama Adit disana. Dia menatap layar ponselnya
kosong hingga akhirnya ponsel itu berhenti berdering, namun setelah beberapa
detik hening, ponsel dharma kembali berdering masih telepon dari Adit, akhirnya
dharma mengangkat telepon itu
“apa?”
“lo
dimana?” Tanya adit cepat
“kenapa emang?”
“LO
DIMANA?” teriak adit
“di rumah”
“ke
RS.. cepet! Rumah Sakit ????? gua tunggu”
“ada apaan si?”
“Haura
mau oprasi.. lu buruan kesini pokonya”
“tunggu…tunggu.. Haura.. oprasi… lo gausah
boong, ga lucu”
“gua serius dharma”
Dharma
terdiam sejenak, dia buru-buru mengambil sebuah jaket yang tergantung di tembok
kamarnya dan berlari keluar, tiba-tiba dia ingat kenapa 2 hari yang lalu dia
melihat Haura memakai sebuah topi dan tak menggerai rambutnya seperti biasa.
Dia baru sadar tentang sesuatu yang seharusnya dia tau sejak dulu, Dharma
menghentikan sebuah taksi lalu masuk ke dalamnya, namun dalam perjalanan mereka
malah terjebak macet. Dharma memberikan selembar uang 100 rb dan keluar dari
taksi itu tanpa mengambil kembaliannya sama sekali. Dia memutuskan untuk
berlari karena rumah sakit yang dimaksud adit hanya beberapa meter dari tempat
tadi.
Ketika
di sebuah koridor menuju ruang oprasi tak sengaja Dharma bertemu dengan
Andrian, langkahnya terhenti sejenak. Dharma menundukan kepalanya dan melangkah
melewati andrian, namun tiba-tiba Andrian menahan Dharma dan memberikan sebuah
cincin berwarna keemasan yang sama seperti miliknya.
“gua..
atas nama haura juga mau minta maaf sama lo, karna udang ngebohongin lo selama
ini, kita pura-pura menjalin hubungan di depan lo.. Haura sebenernya sangat mencintai lo sama
seperti lo mencintai dia.” Ucap Andrian, Dharma seketika membeku di tempat,
otaknya terus berusaha mencerna maksud dari ucapan andrian tadi. Tiba-tiba
Dharma tersenyum, kepalanya terasa pening lagi, dan dadanya seperti kehilangan
oksigen seketika. Dia ingat bagaimana dia membentak haura di hari ulang
tahunnya kemarin.
“dharma… nanti, kalo aku misalnya cuma
ditakdirin hidup 100 hari, kamu gimana?”
“aku… minta sama Tuhan untuk Cuma hidup
99 hari dan menghabiskan 99 hari itu Cuma sama kamu.. karena aku gamau
kehilangan kamu barang seharii aja”
Haura kemudian tersenyum dan menyandarkan
kepalanya di bahu Dharma, dharma membelai kepala gadis itu dengan lembut
“we belong together not for 1 years, or
4 years, but forever”
Dharma
berlari menuju ruang oprasi dan di depan ruang oprasi sudah ada Rio,Adit dan
Riski mereka tentu kaget melihat Dharma datang.
“dhar…
kita…”
Dharma
terus melangkah menuju pintu ruang oprasi, dia bermaksud membukanya namun pintu
itu jelas terkunci rapat, Riski mendekat dan menarik Dharma menjauh dari pintu
itu
“gua
gagal..” bisik dharma, Rio yang mendengar kata itu menepuk pundak dharma.
Langit-langit di ruangan ini kenapa
begitu gelap? Tiba-tiba sebuah lampu besar menyala dan memberikan rasa silau
pada mataku, aku tak bisa mendengar apa-apa lagi, dan otakku mulai mengingatkan
kenangan-kenanganku bersama dharma dulu. Aku tersenyum tipis mengingat semua
itu, ternyata 3 tahun itu sebentar ya dhar?
Pintu
ruang oprasi terbuka, dan para dokter membawa ranjang haura keluar, kedua mata
gadis itu tertutup rapat seakan takkan pernah terbuka lagi, dharma berlutut di
samping kasur itu
“kenapa
kamu tega bohongin aku demi nutupin ini semua? Kenapa?”
1
weeks later
Dharma
membuka lemari pakaiannya dan menemukan sebuah topi rajutan warna merah maroon.
Ketika dia hendak memakainya terdapat sebuah kertas terjatuh ke lantai, dharma
memungut kertas yang dilipat menjadi bentuk persegi itu. Tulisan tangan ini…
Surat
dari Haura.
Untuk dharma:
Dharma..
Gimana kabarmu hari ini?
Aku ga yakin apa ketika kamu baca surat
ini aku masih ada di sisi kamu atau… aah.. seharusnya aku ga bahas hal ini. Aku
Cuma mau minta maaf tentang semua kesalahan aku selama 3 tahun ke belakang,
maaf kalo aku sering bikin kamu kesel dengan sikap kekeras kepalaan aku ini,
sikap kekanakan aku ini. Aku juga mau bilang makasih untuk semua hadiah-hadiah
sederhana yang kadang sering aku ejek ‘biasa aja’ atau ‘ga romantic banget si?’
haha.. aku baru sadar sekarang.. kalo Cuma dengan cara itulah kamu bisa bikin
hati aku loncat-loncat kegirangan.
Ohya, kamu bukan ‘bad boy’ ko.. hehe
Aku salah udah pernah bilang kaya
begitu ke kamu.. maaf ya.. aku emang bodoh.. masa gara-gara ga dikasih mantel
kaya pasangan lainnya pas natal dulu aku nangis dan bilang kamu bad boy.
Hahaha…
Dharma..
Walaupun aku ga bisa ada di sisimu
lagi, kamu percaya deh kalo aku selalu merhatiin kamu. Dimanapun kamu berada,
jadi… jangan suka males makan atau begadang depan computer lagi.. ga sehat tau.
Kamu harus bisa hidup bahagia dengan atau tanpa aku sekalipun. Yah? Janji?
I love you, forever and always.
p.s
suka sama topinya? Hehe aku ngerajut itu
sendiri lo.. malem-malem.. jangan lupa dipake yah ^^
Dharma
tersenyum membaca kalimat yang menutup surat itu lalu memakai topi rajutan
hadiah dari haura. Gadis yang merubah kehidupannya itu.
Dharma
keluar dari rumahnya dan menuju halte bis, dia memutuskan untuk menginap di
rumah orang tuanya selama beberapa hari, setelah bis yang ditunggunya datang,
dharma naik ke atas bis itu, dia berhasil mendapatkan tempat duduk. Dharma
menatap keluar jendela
“permisi”
Dharma
menoleh
“kursinya
kosong ga?”
Wajah
itu…suara itu… dharma membeku sesaat lalu menjawab
“eh
iya.. silahkan”
“kalo
boleh tau…” gadis itu menggantungkan kalimatnya
“alamat
ini dimana ya?” lanjutnya lalu mengeluarkan sebuah potongan kertas Koran
“ini..
alamat rumah saya, kebetulan.. mau kerja di bakery mamah ya?”
“ah
iya… wah.. kebetulan banget yah… aku Adinda namanya siapa?”
“aku
Dharma”
Senyumannya sama seperti haura..
Apa ini yang namanya reinkarnasi?
Atau…
Memang aku harus memulai semuanya dari
awal lagi,
Tenang aja Haura, kamu tetep ada di
hati aku.. meski jujur, gadis ini sedikit lebih cantik dari kamu.
okay,
ini salah satu cerpen gagal buatan saya ._.vv haha gimana?? bagus kan?? gagal kah?? atau gimana?
ini cerita sebenernya terinspirasi dari MV big bang ._. pasti tau deh yang mana wkwk xD ini cerita versi sayaa~~~ sama sekali ga bermaksud menjiplak atau apa ya ._. tapi serius deh ini bener-bener aku bikin sendiri setelah sekali liat itu MV langsung kepikiran jalan cerita versi saya sendiri ;___; jangan di kopi paste(?) ke blog/website kalian ya ^^ kecuali seijin saya ^^ makasih~
jangan lupa kasih pendapatnya ^^
Tidak ada komentar:
Posting Komentar