Rabu, 28 Maret 2012

Day by Day....

            “janji?” aku kembali mengulurkan jari kelingkingku padanya, namun masih belum disambutnya juga. Aku merengut lalu berniat menurunkan jari kelingkingku. Tapi tiba-tiba tangannya menahan tanganku dia tersenyum padaku dengan senyuman khasnya itu.
            “kau tau kan aku bukan orang yang bisa memegang janji?” katanya dengan nada yang lembut, aku hanya mengerjapkan mataku. Kemudian dia mengecup tanganku dan kembali menatapku lembut.
“tapi… untuk yang satu ini,aku akan memegang janji ini selamanya, sampai Tuhan memanggilku nanti. Aku akan terus berusaha untuk menepatinya, selalu.. bersama…selamanya?” dia kembali mengecup tanganku, senyuman lembut itu masih belum menyamar dari bibirnya, aku membalas senyuman itu
“selamanya”

Selamanya… apa kata itu bisa dipercaya? Bersama selamanya… apa dua kata itu akan terus mewakili kita, bersama…selamanya… apa kata itu takkan mengusang selama berputarnya jarum jam di dinding? Aku tak terlalu berharap tentang semua ini, aku bahkan sekarang sangat berharap kita tak bertemu sebelumnya, karena kenyataan yang terjadi sebenarnya.. sekarang…aku takkan bisa menepatinya meskipun aku berusaha.

Day by day…
-dean-

Gadis itu menggigit bibirnya, menahan air mata yang sebentar lagi mengalir turun dari balik kelopak matanya. Pemuda di depannya hanya menatap gadis itu dengan tatapan nanar, siapapun sebenarnya tak ingin terjadi.. tapi keadaan memaksa mereka. Gadis yang bernama Haura itu perlahan melepaskan sebuah cincin yang melingkar di jari manisnya, air mata perlahan menetes. Kemudian dia letakan cincin itu di atas telapak tangan pemuda yang masih diam di depannya. Pemuda itu Andrian. Teman dekatnya selama ini, Haura terdiam sebentar menatap cincin berwarna keemasan itu lalu meraih cincin keperakan di sebelahnya lalu memakainya di jari manisnya. Haura mengangkat wajahnya perlahan

“mulai hari ini…. Kita sama-sama..” katanya dengan suara bergetar. Andrian menghapus sisa air mata di pipi gadis itu dengan ibu jarinya
“jangan nangis… kamu sendiri yang meminta ini, kamu ga boleh menyesal nantinya, ya?” andrian berkata padanya, Haura mengangguk, lalu melangkah pergi. Andrian menatap punggung gadis itu, dia yakin Haura sedang menangis sekarang ini, kemudian Andrian melihat ke arah lain. Ternyata selama ini ada orang yang melihat kejadian ini, Andrian menggenggam cincin yang tadi dipakai Haura kuat-kuat.
Dharma. Pemuda yang selama ini menjadi kekasih Haura melihat semuanya. Namun Andrian tau Dharma pasti tak mendengar apapun tentang percakapan singkatnya dengan Haura, pasti.
“lo…apain Haura sampe dia nangis gitu?” kata Dharma tajam.
“apa urusan lo?” sahut Andrian dingin
Dharma  tiba-tiba melangkah mendekati Andrian,
“lo apain dia HAH?!” teriaknya
“GUA GA NGAPA-NGAPAIN DIA, NGERTI LO!” balas Andrian
2 teman Dharma merasa ada yang tidak beres mereka segera melerai dua orang itu.

“orang gagal seperti lo itu… ga pantes ada di sisi Haura, ngerti lo?” ucap Andrian, Dharma tersulut emosinya ketika mendengar kata ‘orang gagal’ kemudian menerjang Andrian dan menghantamnya tepat di wajah, mereka berkelahi disana. Tepat setelah Haura pergi. 2 teman Dharma tentu tidak diam saja, mereka berusaha melerai mereka berdua. Namun keduanya malah saling memancing emosi dan mencaci maki.

“DHARMA UDAH!! JANGAN KAYAK ANAK KECIL GINI?!” teriak Adit –teman dharma. Adit kemudian menyeret Dharma pergi dari tempat itu, disisi lain Riski hanya menepuk-nepuk bahu Andrian
“gua ga nyangka kalian sampe harus berantem kaya gini..” ucapnya, Andrian menatap Riski lalu hanya mengulas senyum tipis, dia menghapus darah yang muncul dari sudut bibirnya akibat pukulan Dharma tadi.
“dia kayaknya nganggep Haura cinta sejatinya, Ris… gua sebenernya kalo bisa gamau berbuat kaya gini.. tapi keadaan maksa gua, ris..” kata Andrian, Riski kemudian tersenyum dan kembali menepuk bahu temannya itu.
“ga ada yang mau hal ini terjadi Dri.. ga ada. Tapi takdir selalu berkata lain”
Andrian tersenyum.
“udah susul Dharma sama Adit sana. Nanti lo juga dianggap bukan ‘sahabat’ sama anak itu”
Riski terkekeh lalu melangkah pergi menyusul Dharma dan Adit. Dulu dia,Andrian,Adit,Rio dan Dharma adalah sahabat yang sangat dekat—sudah seperti keluarga terutama Dharma, dulu Dharma dan Andrian sangatlah dekat, bahkan dulu Dharma  yang meminta bantuan Andrian untuk mendapatkan Haura ketika tahun-tahun terakhir mereka semua duduk di bangku SMA. Andrian juga sempat jadi ‘supir kencan’ Haura dan Dharma, Dharma sama sekali tak bisa menyetir mobil dan kendaraan lainnya, pernah dia les mengemudi dan yang Dharma dapatkan hanyalah permintaan ganti rugi karena menabrak pagar rumah orang ketika latihan. Di mata Andrian, Dharma dan Haura pasangan yang nyaris sempurna. Dia senang bisa menghabiskan waktu dengan keduanya, tapi itu bukan berarti apa-apa, Andrian sama sekali tak menyimpan rasa pada Haura seperti apa yang Dharma kira selama ini. Semua ini terjadi begitu saja, tanpa ada yang menginginkannya sama sekali. Takdir yang memaksa mereka.

---

Ketika tiba di rumah, Dharma langsung membanting tubuhnya ke atas sofa, dia memijat pelipisnya menghilangkan rasa pening yang belakangan ini terus dia alami sejak 1 minggu yang lalu, ketika tiba-tiba hal yang sama sekali tak ingin dia lihat terjadi di depan matanya. Andrian dan Haura berciuman di halaman rumahnya, didepan matanya. Malam itu dia langsung menerjang Andrian dan memukulinya. Dan sejak malam itu Dharma sama sekali tak menganggap Andrian sahabatnya lagi.
Dan sejak itu ada satu hal yang mengganjal di hatinya, dan terus dia pikirkan. Kenapa ini harus terjadi? Dan tak peduli seberapa besar rasa dikhianati yang disrasakan oleh Dharma dia tak ingin melepaskan Haura sama sekali. Gadis itu sangat berharga menurutnya.

“ma, mau gua ambilin kompresan buat luka lo?” tawar Rio, Dharma hanya menggeleng lalu langsung menuju kamarnya yang ada di lantai dua tanpa berkata lagi.

“kayanya tu anak stress banget gara-gara masalah ini” celetuk Adit lalu bersandar pada sandaran kursi kayunya.
“lu kaya baru kenal dia sehari-dua hari aja… Dharma kan emang begitu anaknya” sahut Rio lalu duduk di atas sofa yang tadi di duduki oleh Dharma.
“gua Cuma bisa berharap dia ga ngamuk di kamarnya itu aja…” ucap Riski mengingatkan ketiganya tentang bagaimana Dharma mendapatkan luka di pipi kirinya. Luka yang masih di perban itu, mereka berharap Dharma ga bertingkah yang lebih parah dari hal itu—meski rasanya itu hal yang sangat mustahil.

“menurut kamu kita kesana jangan?” Tanya Haura, dia memperhatikan kertas yang ada di tangannya, Dharma mau tak mau ikut menatap kertas yang berisi undangan datang ke sebuah pertunjukkan musical. Dharma menyeruput es bubblenya lagi kemudian menggangguk setuju
“apa salahnya?” katanya setelah menelan beberapa bubble
“tapi… bukannya besok kita sama Andrian mau ke danau? Katanya kamu udah janji sama Andrian buat nganter kesana” Tanya Haura lagi, Dharma diam sejenak dia memikirkan bagaimana sebaiknya.
“emang siapa sih yang ngundang ke musical itu?” Tanya Dharma
“sahabatku si…”
“hmm… itu ga cuma buat hari ini kan?... acaranya?” Tanya Dharma lagi, Haura hanya mengangguk
“bisa lain kali kan? Kalo kamu emang mau ke danau kita ke musical lain kali aja”
“iya juga ya.. hahaha aku ga kepikiran sampe kesana lo”
“dharma gitu… selalu bisa menyelesaikan masalah” Dharma memainkan alisnya, haura tertawa renyah lalu menurunkan topi yang dipakai Dharma agar dia tak bisa melihat kedua alis itu.
“eii… tergoda ya sama alisku”
“seenaknya aja ngomong”

---

Drak!

Suara itu mengejutkan Riski, Adit dan Rio yang tengah mengobrol di lantai bawah. Tawa-tawa itu berubah jadi keheningan panjang untuk memastikan pendengaran masing-masing. Namun belum ada suara lain lagi, hanya ada suara hembusan angin yang melewati ranting-ranting pohon di luar sana.

“kalian denger yang tadi kan?” Tanya Rio
“iya..apaan ya?” sahut Adit

Drak!
“AAARRRGGGHHH!!”
Mendengar teriakan itu entah kenapa langsung mendorong Rio untuk segera berlari ke lantai atas, diikuti Adit dan Riski. Dan memang apa yang ditakuti oleh Riski terjadi lagi, mereka hanya bisa geleng kepala melihat ceceran darah dari tangan Dharma dan pecahan cermin di atas wastafel sekarang cermin berbentuk bulat itu hancur dan pecahannya bertebaran di sekitar wastafel. Rio menghampiri Dharma dan membawanya keluar dari ruangan itu. Riski dan Adit hanya menatap keduanya keluar dari kamar Dharma yang dulu mereka sebut sebagai kamar ter-rapi sepanjang sejarah dan sekarang seperti gudang dari pada kamar.

“anak itu bener-bener hancur.. sehancur-hancurnya manusia” ucap adit, riski hanya menatap temannya itu
“dia bisa lebih parah dari ini…. Kalo dia tau”
Kedua mata Adit membesar seketika.
“Jadi.. yang dibilang Andrian waktu itu bener? Lo ga becanda kan Ris?” Tanya Adit, Riski mengangguk pasrah
“lo ga boleh bilang apa-apa ke Dharma.. itu permintaan Andrian sama…Haura”
Adit masih diam. Lebih tepatnya membeku di tempat begitu mendengar apa yang barusan dikatakan oleh Riski, apa yang selama ini dia kira dan Cuma candaan belaka ternyata memang benar-benar terjadi.

dia bisa lebih parah dari ini

kalimat itu menggema di otak Adit.

---

“dri, kamu yakin…. Dharma bakal suka?” Tanya Haura.
“kenapa engga?” Tanya Andrian balik
“tapi…aku…”
“udahlah, beli aja.. nanti aku yang kasih”

“thanks buat hari ini Dri… kalo ga ada kamu pasti susah banget cari yang tadi” ucap Haura diakhiri dengan senyuman manisnya, Andiran membalas senyuman itu.
“kemana lagi sekarang? Pulang?” Tanya Andrian. Haura tak menjawab, dia membeku ketika menatap ke satu tempat, ketika Andrian mengikuti kemana arah tatapan Haura mengarah dia bisa melihat mobil Riski tepat di depan mobil mereka berdua, yang membuat Haura membeku bukan karena mobil itu tapi karena Dharma yang duduk di jok belakang menatap tajam ke arahnya. Bahu Haura bergunjang hebat, kemudian langsung beralih bersandar pada bahu Andrian. Andrian sempat tersentak namun kemudian merangkul pundak Haura dan mengecup bagian atas kepalanya, lalu tersenyum sarkatis ke arah Dharma. Dharma membuta pintu mobilnya dan melangkah menuju mobil Andrian dia meninju bagian kap mobil dan menatap dua orang di depan itu dengan tatapan ‘membunuh’. Riski dan Rio segera turun dan menarik Dharma mundur sebelum terjadi hal yang tidak-tidak.

---

“jadi mau kamu apa sekarang?” Tanya Dharma, orang yang ada di sebrang telepon sana belum membalas apa-apa lagi hanya terdengar helaan nafas
bukannya waktu itu aku udah bilang, ma? Aku lebih…mencintai Andrian dari kamu” balas suara itu, melebarkan luka yang sudah lebih dulu tercoreng di hati Dharma
tapi aku ga bisa biarin kamu pergi haura… kamu lupa janji kita?” suara Dharma bergetar
Haura menutup mulutnya dengan sebelah tangannya, dia ingat dengan kenangan bodoh mereka dulu, bagaimana mereka tertawa dan bercanda dulu.
“maaf Dharma.. aku ga bisa nepatin janjit itu lagi… takdir berkata lain” ucap Haura, matanya kembali berair
aku cuma pengen kamu tau kalo apapun keputusanmu, aku tetep nganggep kita kaya dulu, ra.. aku udah terlanjur terikat dengan perjanjian kita waktu itu. Gapapa..” Dharma menghela nafasnya di sebrang sana “meski hati kamu bukan buat aku lagi… asalkan kamu bahagia aku juga bahagia ko.. aku cinta sama kamu, aku pengen kita sama-sama selamanya, sampe cuma maut yang misahin kita..” kalimat itu sukses membuat air mata mengalir deras dari mata haura, dia sama sekali tak menyangka ada orang seperti ini di dunia ini, selama hidup 20 tahun lamanya di dunia ini dia tak pernah percaya pada apa yang namanya cinta sejati. Sama sekali tidak. Namun sekarang Tuhan seperti sedang memberinya sebuah cobaan berat ketika dia bertemu dan akhirnya membuatnya sadar bahwa inilah cinta sejatinya. Cinta sejati yang sudah dia lukai dengan teganya.
“maaf…maaf dharma aku gabisa” ucap haura, kemudian memutuskan sambungan teleponnya, dia menangis di pojokan kamarnya. Menyesali semua yang sudah terjadi, menyesali apa yang seharusnya dia lakukan ketika ada kesempatannya dulu, sekarang dia terlambat, benar-benar terlambat. Haura menyingkirkan rambut yang menghalangi pandangannya dan menyadari ada sesuatu yang menyangkut di tangannya, ketika dia melihat apa itu tangisannya semakin menjadi. Haura melepaskan helaian rambut yang menyangkut di tangannya lalu menutup mulutnya dengan tangannya yang lain, dia takut. Semakin takut.

Dharma membaringkan tubuhnya diatas kasur, dia menerawang ke langit-langit kamarnya yang berwarna abu itu. Sejenak ia memejamkan matanya lalu kembali terbayang tentang masa lalunya. Ketika mereka bermain di danau itu, naik ke atas perahu dan saling memotret dari atas perahu itu, bercanda dengan air danau yang jernih itu di teriknya matahari, bagaimana mereka bercanda di dermaga sore harinya, dan ketika mereka berbaring di padang rumput memandang bintang yang bertebaran di langit malam.
Dharma mencengkram seprai kasurnya kuat-kuat. Darah kembali mengalir dari balik perban di tangan kirinya, Dharma bangkit dari kasurnya dan menatap layar ponselnya, wallpapernya masih sama sejak dulu, foto ‘couple’ pertamanya dengan Haura di sebuah pusat perbelanjaan, dharma membanting ponsel itu hingga isinya berceceran. Lalu bangkit dari tempat dia duduk, pening kembali terasa, dan entah kenapa rasa pening itu malah membuat emosinya tiba-tiba naik dan membanting sebuah meja yang ada dikamarnya sehingga benda apapun yang ada diatasnya berjatuhan ke lantai. Rio yang mendengar keributan dari kamar Dharma hanya berlari dan menatap bagaimana Dharma mengamuk di kamarnya lewat ambang pintu, ketika Riski datang dia juga hanya membeku, di ambang pintu seperti Rio.

“gua gatau apa yang terjadi disini tapi.. gua takut… apa jadinya kalo Dharma tau” ucap Rio pelan, Riski menatap temannya, lalu beralih kembali menatap Dharma yang sudah duduk lemas di tengah kamarnya dengan kepala tertunduk
“gua ga peduli lagi… yang gua tau cuma Dharma butuh kita sekarang” Riski melangkahkan kakinya masuk dan berlutut tepat di sebelah Dharma, dia menenangkan Dharma. Tiba-tiba ponselnya berdering ada telepon dari Andrian, dia mengangkatnya dan setelah mendengar beberapa kalimat dari Andrian, Rio segera berlari keluar menuju mobilnya yang sudah terparkir di halaman.

It can't be removed like a tattoo
I sigh deeply as if a ground is going to cave in
Only dusts are piled up in my mind

Rio berlari di sebuah koridor dan tak mempedulikan bagaimana pandangan orang lain tentangnya, dia berlari sekuat tenaganya sampai akhirnya dia menemukan sebuah pintu bertuliskan 3 digit angka. Lalu perlahan membuka pintunya, di dalam ruangan itu hanya ada Andrian dan seseorang yang tengah terbaring lemah di atas ranjangnya, dia…
Haura.

“kapan dia dibawa kesini?” Tanya Rio
“1 jam yang lalu… dokter bilang udah parah banget, bahkan oprasi juga ga akan menjamin dia sembuh.. kemungkinannya cuma 20%”
“eh?” mata Rio membesar karenanya “serius lo?” tanyanya lagi
“gua serius… paling lambat minggu depan dia harus dioperasi.. gua udah nanya ke Haura dia mau kapan di operasi, dia bilang hari kamis.. setelah rencana itu”
“dia… masih mikirin rencana itu dengan keadaan begini?!”
“dari awal niat dia emang gitu kan? Tante sama om juga ga bisa bilang apa-apa tadi.. mereka pasrah dengan kemauan haura yang udah final itu, dia mau ngasih hadiah 3 year anniversary dulu ke Dharma baru di operasi”
Rio mengalihkan pandangannya, namun kembali menatap haura yang tertidur pulas di atas kasurnya.
“sampai hari itu.. Dharma gaboleh tau.. haura bilang Dharma gaboleh tau apa-apa.. sampe dia sembuh”
“gua ngerti… Dharma gatau, tapi dia hancur, dri… lo juga sebagai sahabatnya pasti tau kan?”
“gua tau… tapi ini permintaan Haura.. dia juga sahabat kita, kita gaboleh egois”

            ­­---
ma, aku mau nanya” haura menegakkan posisi duduknya, dharma yang tengah sibuk beraktifitas dengan komputernya hanya berdehem singkat.
“nanya apa?” Tanya dharma ketika tak terdengar suara haura lagi
“kamu… kalo misalnya ada yang mau ngasih kamu hadiah ulang tahun atau apalah.. kamu mau apa?” Tanya Haura, dharma seketika memutar kursinya dan menghadap ke Haura. Bibirnya mengembangkan sebuah senyuman nakal
“mau beliin aku kado yaaaa~?” dharma menunjuk Haura nada bicaranya seperti sedang mengejek gadis itu
“eh, kamu sendiri belum ngasih aku kado ulang tahun kemaren, sekarang aku harus kasih kamu kado? Kado buatku mana dulu??” omel Haura, Dharma mencibir gadis itu kemudian memutar kursinya lagi dan kembali focus pada komputernya, Haura terkekeh di belakang dia bangkit dari kursinya dan memeluk dharma dari belakang.
“marah yaaa?” Tanya haura
“enggak.”
“ish marah… dharma ga lucu ah”
“iya,iya aku marah.. kenapa?”
“masa gara-gara kado aja marah si?” haura mencubiti pipi dharma
“aku belum ada uang, ra… jangan ingetin kado mulu dong”
“woooo…” Haura menurunkan lipatan yang ada di kupluk dharma hingga menutupi wajah pemuda itu seluruhnya, dharma tertawa pelan lalu melepaskan kupluk itu.
“emang kenapa kamu nanya gitu ke aku? Yang hadiah itu…” Tanya dharma lagi
“buat apa yaaa?? Rahasia dong.. jawab aja”
“eemm…apa yah.. aku maunya kamu”
“eeh… jenggut nih.. serius dong”
“apa yah..? gatau deh, aku lagi ga pengen apa-apa”
“eeumm.. yaudah deh, eh.. udah sore.. aku pulang yah?”
“aku anter??”
“oke”

“si dharma kemana?” Tanya Rio sekembalinya dari Rumah sakit, Adit dan Riski menjawabnya dengan gelengan kepala. Sejak tadi, dharma memang tak terlihat lagi di rumah itu entah kapan perginya.

“Dri.. aku mau ke danau”

Dharma memandang pemandangan air yang tenang di depannya dengan tatapan kosong, dia mengambil beberapa buah batu yang ada di sekitarnya lalu melemparkannya ke tengah danau membuat riak-riak air bergerak, melebar, dan menghilang. Tiba-tiba matanya menangkap sesuatu yang ia yakini itu adalah haura di sebrang danau dengan pakaian serba putih dan sebuah topi warna putih. Dharma terdiam dan menikmati pemandangan itu dari kejauhan. Kemudian Andrian datang dan duduk di sebelahnya, kelihatannya mereka tengah mengobrol, lalu sesekali terdengar sebuah tawa khas dari haura. Dharma tersenyum tipis ketika suara itu samar-samar menggetarkan gendang telinganya. Dharma melihat semuanya, bagaimana andrian membelai kepala haura dengan lembut, caranya membuat haura tertawa, dan sampai akhirnya dharma benar-benar harus menahan semua rasa cemburunya ketika andrian tiba-tiba mendaratkan sebuah kecupan di kening dan puncak kepala haura, persis seperti yang mereka lakukan dulu.

“taraaaa!!” dharma membuka kepalan tangannya dan menunjukan dua pasang cincin berarna keemasan
“ini apa?”
“gatau?? Ini namanya cincin.. yang ini buat aku, yang ini buat kamu” dharma memberikan salah satu cincin pada haura.
“kamu gabisa ngasihnya dengan cara yang romantic dikit apa?” Tanya haura dengan nada suara yang dibuat seperti sedang kesal
“eii… aku ga biasa sama yang begitu, yaudahlah pake cincinnya”
“bagus” haura mengulurkan tangannya ke depan dan memperlihatkan cincin yang sudah melingkar di jari manisnya. Dharma mengikuti setelahnya.
“bagus kaan?”

Dharma menatap bulatan keemasan itu sendiri, cincin yang dulunya berwarna emas terang kini tampaknya warna itu mulai memudar, dia masih ingat ketika dia memberikan cincin ini saat 6 month anniversarrynya dengan haura. Dharma memakai cincin itu lagi lalu pergi dari tempat itu.

---

Tuesday, 2nd November

Dharma kembali menggeleng tak setuju ketika Rio kembali membujuknya untuk menemani pemuda itu bermain basket di lapangan yang jaraknya hanya 500 meter dari rumah dharma.
“gua ga mood olahraga sama sekali.. sama yang lain aja sana” tolak dharma
“ma… lu… aiis.. ayolaah~ yang lain kan lagi di rumah Riski…” ajak Rio lagi, dharma berdecak kesal dan kembali menggelengkan kepalanya
“gua gaenak badan rioo, sendiri aja kenapa si?”
“gaenak badan? Gimana badan lu yang kurus kering begini bisa enak kalo olahraga aja gamau, seenggaknya lu harus kena sinar matahari, ma”
Dharma hanya memutar bola matanya.
“lu nonton aja deh.. gua main sendiri”
Setelah perdebatan panjang, akhirnya dharma menyerah lalu mengikuti mau Rio, meski dia merasa ada yang janggal ketika rio memutuskan untuk naik ke dalam mobil, jarak yang lumayan dekat kenapa harus naik mobil? Dan dharma sadar ada sesuatu yang aneh disini ketika rio tidak mengarahkan mobilnya ke lapangan basket tapi ke tempat lain

“mau kemana?” Tanya dharma singkat
“ke lapangan” jawab rio singkat dengan pandangan focus ke depan, dharma hanya menghembuskan nafas panjang dan menatap keluar jendela. Dan bukan lapangan yang mereka tuju, tapi danau. Dharma melihat sekeliling ketika dia keluar dari mobil.

“mau ngapain disini?” Tanya dharma
“gua mau jemput yang lain dulu… lu disini aja tungguin” ucap rio dan segera mungkin menggas mobilnya meninggalka tempat itu. Dharma yang kebingungan akhirnya hanya diam di pinggiran jalan itu dan melihat sekeliling.

“Dharma..” panggil seseorang, dharma segera berbalik dan terkejut melihat haura dengan gaun warna biru muda selutut. “apa kabar?” Tanya haura, mata gadis itu melirik kea rah tangan kiri dharma yang di perban, dharma segera menyembunyikan tangan itu.
“baik” jawabnya singkat
“mau bicara? Sebentar aja.. ga ada 10 menit”
“boleh”

---

“jadi.. tangan kamu itu kenapa?” Tanya haura membuka percakapan, dharma menatap ke depan dan masih membungkam mulutnya tak mau membahas luka ini sama sekali “kamu... apa itu… luka karena…”
“ada insiden kecil, ga disengaja.” Jawab dharma memotong kalimat haura, gadis itu menganggukkan kepalanya “kamu sendiri gimana kabarnya?”
“baik…”
Dharma menolehkan kepalanya, menatap gadis yang sekarang tengah duduk di sebelahnya
“kamu kurusan.. lagi diet?”
“ah engga.. lagi ga mau makan aja belakangan ini” jawab haura diakhiri senyuman manis
“hmm.. mau bicara apa?”
“aku cuma mau ngasih kamu ini” haura mengeluarkan sebuah topi rajutan warna merah maroon. “happy birthday”
Dharma tersenyum dan segera mengalihkan pandangannya, dia baru saja ingat hari ini hari ulang tahunnya, dia nyaris ingin tertawa sekencang-kencangnya
“kamu inget?” Tanya dharma, haura hanya menggangguk pelan.
“makasih.. tapi aku ga butuh itu” dharma menatap haura tajam
“karena yang aku butuhin bukan hadiah yang seperti ini, kamu tau kan? Kalo hadiah yang paling tepat buatku itu apa? Itu kamu.” Ucap dharma “tapi.. itu udah ga mungkin lagi ya? Ya kan?” dharma tersenyum sarkatis. Haura hanya menatapnya dengan diam.
“kamu marah?” Tanya haura
“masih nanya??? Masih bisa nanya pertanyaan itu???” kata dharma tajam
“aku ga marah.. aku ke-ce-wa.. aku kecewa, aku ngerasa gagal, aku… aku… aku muak liat mukamu itu!! Aku muak!! Jujur aku merasa sebaiknya kita harusnya ga ketemu sama sekali!!”
Haura diam, dia menggigit bibirnya menahan airmata yang sebentar lagi akan jatuh.
“apa.. aku yang terlalu bodoh ya? Terlalu cinta? Atau apalah itu… aku yang bodoh ya? Haura, aku bodoh ya?”
“kamu ga bodoh dharma.. engga”
“aku cape.” Ucap dharma “aku cape nahan semua sakit ini, cemburu yang terus membakar luka ini. Aku cape. Aku cape marah. Aku cape cemburu. Aku cape… tapi aku ga bisa berenti marah, aku gabisa berenti cemburu ketika kamu deket-deket bangsat itu”
“andrian bukan bangsat dharma!”
“TERUS APA?”
“kenapa kamu manggil andrian bangsat? Apa alasan kamu? Aku tau kamu marah, cemburu, kecewa.. tapi ga seharusnya kamu manggil andrian bangsat kaya gitu”
“TERSERAH!” dharma bangkit dari bangku itu dan melangkah pergi, meninggalkan haura sendirian. Dan air mata yang sejak tadi ditahan gadis itu mulai mengalir melalui pipi gadis itu, dia menangis lagi. dia juga pelan-pelan merasakan apa yang dirasakan oleh dharma. Dan dia juga akhirnya hancur. Lebih hancur dari dharma.

---

“jadi kemaren dharma nolak hadiah itu?” Tanya Andrian, Haura mengangguk dengan seulas senyuman manis di bibirnya
“dia akhirnya marah sama aku dri.. dia benci sama aku” ucap haura, Rio, Riski dan Adit hanya menatap gadis itu dengan diam. Mereka tak tau lagi harus berkomentar apa tentang ini, Haura sepertinya benar-benar ‘berhasil’ membuat Dharma membencinya.
“Rio.. aku mau denger kamu nyanyi… udah lama aku ga denger kamu nyanyi. Adit juga”
“kamu harus istirahat Haura, nanti jam 3 kan masuk ruang oprasi”
“aku mau denger kamu nyanyi yo… serius deh.. aku kangen sama suara kamu pas nyanyi itu”

Rio akhirnya menyerah, dan Adit pamit ke kamar mandi. Adit bersandari di sebelah pintu kamar Haura dan memejamkan matanya, jam 3 nanti haura akan dioprasi… inikah saatnya dharma tau? Atau tidak? Suara nyanyian rio tak terdengar lagi, tiba-tiba beberapa dokter dan suster masuk ke kamar haura dan membawa haura keluar. Adit membeku ketika melihat Haura terbaring lemah di atas kasurnya dengan wajah pucat pasi.
“kenapa sama dia?” Tanya adit
“gua juga gay akin, tiba-tiba haura mimisan lagi. Andrian langsung manggil dokter” jelas Riski
“dan dokter tadi langsung mutusin haura untuk di bawa ke ruang oprasi sekarang juga, setelah meriksa keadaan haura tadi. Kayanya udah gawat banget” lanjut Rio
“pokonya telpon Dharma sekarang!”
Rio membulatkan kedua matanya
“sekarang?”
“cepet!!” ucap andrian lalu berlari menyusul para dokter, diikuti Riski dan Adit.

Tuuut…tuuuut…tuut..

Dharma menatap layar ponselnya terdapat nama Adit disana. Dia menatap layar ponselnya kosong hingga akhirnya ponsel itu berhenti berdering, namun setelah beberapa detik hening, ponsel dharma kembali berdering masih telepon dari Adit, akhirnya dharma mengangkat telepon itu

apa?”
“lo dimana?” Tanya adit cepat
kenapa emang?”
“LO DIMANA?” teriak adit
di rumah”
“ke RS.. cepet! Rumah Sakit ????? gua tunggu”
ada apaan si?”
“Haura mau oprasi.. lu buruan kesini pokonya”
tunggu…tunggu.. Haura.. oprasi… lo gausah boong, ga lucu”
“gua serius dharma”
Dharma terdiam sejenak, dia buru-buru mengambil sebuah jaket yang tergantung di tembok kamarnya dan berlari keluar, tiba-tiba dia ingat kenapa 2 hari yang lalu dia melihat Haura memakai sebuah topi dan tak menggerai rambutnya seperti biasa. Dia baru sadar tentang sesuatu yang seharusnya dia tau sejak dulu, Dharma menghentikan sebuah taksi lalu masuk ke dalamnya, namun dalam perjalanan mereka malah terjebak macet. Dharma memberikan selembar uang 100 rb dan keluar dari taksi itu tanpa mengambil kembaliannya sama sekali. Dia memutuskan untuk berlari karena rumah sakit yang dimaksud adit hanya beberapa meter dari tempat tadi.

Ketika di sebuah koridor menuju ruang oprasi tak sengaja Dharma bertemu dengan Andrian, langkahnya terhenti sejenak. Dharma menundukan kepalanya dan melangkah melewati andrian, namun tiba-tiba Andrian menahan Dharma dan memberikan sebuah cincin berwarna keemasan yang sama seperti miliknya.
“gua.. atas nama haura juga mau minta maaf sama lo, karna udang ngebohongin lo selama ini, kita pura-pura menjalin hubungan di depan lo..  Haura sebenernya sangat mencintai lo sama seperti lo mencintai dia.” Ucap Andrian, Dharma seketika membeku di tempat, otaknya terus berusaha mencerna maksud dari ucapan andrian tadi. Tiba-tiba Dharma tersenyum, kepalanya terasa pening lagi, dan dadanya seperti kehilangan oksigen seketika. Dia ingat bagaimana dia membentak haura di hari ulang tahunnya kemarin.

dharma… nanti, kalo aku misalnya cuma ditakdirin hidup 100 hari, kamu gimana?”
“aku… minta sama Tuhan untuk Cuma hidup 99 hari dan menghabiskan 99 hari itu Cuma sama kamu.. karena aku gamau kehilangan kamu barang seharii aja”
Haura kemudian tersenyum dan menyandarkan kepalanya di bahu Dharma, dharma membelai kepala gadis itu dengan lembut
“we belong together not for 1 years, or 4 years, but forever”

Dharma berlari menuju ruang oprasi dan di depan ruang oprasi sudah ada Rio,Adit dan Riski mereka tentu kaget melihat Dharma datang.
“dhar… kita…”
Dharma terus melangkah menuju pintu ruang oprasi, dia bermaksud membukanya namun pintu itu jelas terkunci rapat, Riski mendekat dan menarik Dharma menjauh dari pintu itu
“gua gagal..” bisik dharma, Rio yang mendengar kata itu menepuk pundak dharma.

Langit-langit di ruangan ini kenapa begitu gelap? Tiba-tiba sebuah lampu besar menyala dan memberikan rasa silau pada mataku, aku tak bisa mendengar apa-apa lagi, dan otakku mulai mengingatkan kenangan-kenanganku bersama dharma dulu. Aku tersenyum tipis mengingat semua itu, ternyata 3 tahun itu sebentar ya dhar?

Pintu ruang oprasi terbuka, dan para dokter membawa ranjang haura keluar, kedua mata gadis itu tertutup rapat seakan takkan pernah terbuka lagi, dharma berlutut di samping kasur itu

“kenapa kamu tega bohongin aku demi nutupin ini semua? Kenapa?”

1 weeks later

Dharma membuka lemari pakaiannya dan menemukan sebuah topi rajutan warna merah maroon. Ketika dia hendak memakainya terdapat sebuah kertas terjatuh ke lantai, dharma memungut kertas yang dilipat menjadi bentuk persegi itu. Tulisan tangan ini…
Surat dari Haura.

Untuk dharma:

Dharma..
Gimana kabarmu hari ini?
Aku ga yakin apa ketika kamu baca surat ini aku masih ada di sisi kamu atau… aah.. seharusnya aku ga bahas hal ini. Aku Cuma mau minta maaf tentang semua kesalahan aku selama 3 tahun ke belakang, maaf kalo aku sering bikin kamu kesel dengan sikap kekeras kepalaan aku ini, sikap kekanakan aku ini. Aku juga mau bilang makasih untuk semua hadiah-hadiah sederhana yang kadang sering aku ejek ‘biasa aja’ atau ‘ga romantic banget si?’ haha.. aku baru sadar sekarang.. kalo Cuma dengan cara itulah kamu bisa bikin hati aku loncat-loncat kegirangan.
Ohya, kamu bukan ‘bad boy’ ko.. hehe
Aku salah udah pernah bilang kaya begitu ke kamu.. maaf ya.. aku emang bodoh.. masa gara-gara ga dikasih mantel kaya pasangan lainnya pas natal dulu aku nangis dan bilang kamu bad boy. Hahaha…
Dharma..
Walaupun aku ga bisa ada di sisimu lagi, kamu percaya deh kalo aku selalu merhatiin kamu. Dimanapun kamu berada, jadi… jangan suka males makan atau begadang depan computer lagi.. ga sehat tau. Kamu harus bisa hidup bahagia dengan atau tanpa aku sekalipun. Yah? Janji?
I love you, forever and always.

p.s
suka sama topinya? Hehe aku ngerajut itu sendiri lo.. malem-malem.. jangan lupa dipake yah ^^

Dharma tersenyum membaca kalimat yang menutup surat itu lalu memakai topi rajutan hadiah dari haura. Gadis yang merubah kehidupannya itu.
Dharma keluar dari rumahnya dan menuju halte bis, dia memutuskan untuk menginap di rumah orang tuanya selama beberapa hari, setelah bis yang ditunggunya datang, dharma naik ke atas bis itu, dia berhasil mendapatkan tempat duduk. Dharma menatap keluar jendela

“permisi”
Dharma menoleh
“kursinya kosong ga?”
Wajah itu…suara itu… dharma membeku sesaat lalu menjawab
“eh iya.. silahkan”
“kalo boleh tau…” gadis itu menggantungkan kalimatnya
“alamat ini dimana ya?” lanjutnya lalu mengeluarkan sebuah potongan kertas Koran
“ini.. alamat rumah saya, kebetulan.. mau kerja di bakery mamah ya?”
“ah iya… wah.. kebetulan banget yah… aku Adinda namanya siapa?”
“aku Dharma”

Senyumannya sama seperti haura..
Apa ini yang namanya reinkarnasi?
Atau…
Memang aku harus memulai semuanya dari awal lagi,
Tenang aja Haura, kamu tetep ada di hati aku.. meski jujur, gadis ini sedikit lebih cantik dari kamu.


okay,
ini salah satu cerpen gagal buatan saya ._.vv haha gimana?? bagus kan?? gagal kah?? atau gimana?
ini cerita sebenernya terinspirasi dari MV big bang ._. pasti tau deh yang mana wkwk xD ini cerita versi sayaa~~~ sama sekali ga bermaksud menjiplak atau apa ya ._. tapi serius deh ini bener-bener aku bikin sendiri setelah sekali liat itu MV langsung kepikiran jalan cerita versi saya sendiri ;___; jangan di kopi paste(?) ke blog/website kalian ya ^^ kecuali seijin saya ^^ makasih~
jangan lupa kasih pendapatnya ^^